Kamis, Juni 25, 2009

Senandung Tujjar* (1)

Sudah kesekian kalinya saya shalat dhuhur di mesjid besar dekat tempat saya mencari nafkah. Selalu saya takjub, bukan dengan megahnya mesjid itu, tetapi dengan peserta rutin shalat jamaah di situ. Untuk ukuran penduduk sekitar mesjid yang jumlahnya ribuan itu, jamaah zhuhurnya ngga lebih dari satu shaf. Barangkali yang spesial, orang-orang yang selalu terlihat berjamaah dengan saya. Bukanlah mereka penduduk komplek sekitar mesjid. Mereka itu datang dengan barang dagangannya, gerobaknya, sepeda ontelnya, masuk mesjid sembari berubah wujud jadi berpeci dan bersarung.

Tempat itu memang cukup sepi dan nyaman untuk beristirahat siang. Lokasinya jauh dari jalan utama. Sakit kepala saya sering saya tuntaskan di mesjid itu, bukan dengan mengaji atau shalat sunat, tapi cuma buat tidur siang. I’m not as perfect as a saint anymore, maybe.

Saya pernah dengar satu penjual muda berkisah tentang dirinya, tentang orang tuanya dan adik-adiknya yang masih kecil di kampung. Pengorbanannya mengadu nasib di Jakarta semata-mata agar riwayat keluarganya punya kelanjutan cerita. Nampak benar ketegaran hidupnya. Usianya jelas lebih muda dari saya. Cuma diakhir keluhannya, tidak lupa dia mengucapkan syukur dan mempercayakan peruntungannya kepada Allah belaka.

Peserta lainnya? Ada penjual bakso, penjual susu kedelai, tukang soto, Pak Pos, penjual makanan lainnya yang ngga jelas. Ngga jelas itu makanan apa…. lantaran jarang terlihat orang menjajakan makanan macam itu, seperti manisan jagung, agar-agar, atau apalah.
Tidak habis pikir, menurut saya makanan ngga jelas yang saya sebut itu pangsa pasarnya juga ngga jelas. Khan ngga semua orang suka beli manisan jagung. Segmennya sempit, positioningnya juga susah, apalagi mengedukasi orang untuk jadi konsumen loyal dengan produk itu. Mending jualan bakso atau soto. Semua orang suka, sering dibeli dan nampol kenyangnya. Kalo beruntung dagangan cukup enak, maka sejumlah konsumen akan loyal, senantiasa menanti kedatangannya.

Tentu saja mereka tidak ngerti… tidak paham istilah-istilah ekonomi macam positioning, segmen pasar, membaca demografi, analisa perilaku konsumen, atau apalah yang sering muncul di kuliahan orang gedongan. Sekolah mereka yah… jalanan itu, jalanan yang mengasah kepribadian mereka, jalanan telah membimbing mereka selalu tersenyum menghadapi orang, baik orang yang beli maupun sekedar lihat-lihat dagangan mereka. Guru mereka adalah Tuhan Semesta Alam.

Saya rasanya tidak berbakat jualan. Saya bukan keturunan pedagang. Almarhum Ayah dulunya PNS, Almarhum ibu saya selalu di rumah jadi koki yang baik. Saya tidak pintar tawar-menawar, tidak pula negosiasi.

Tapi… saya benar-benar pernah berdagang dulu, sudah lama sekali. Awal-awal pertama kuliah, uang kiriman selalu jauh dari cukup. Buku-buku kuliah tidak satupun terbeli bahkan hingga saya wisuda. Saya siasati dengan mengurangi makan jadi dua kali sehari. Ternyata badan saya tidak setuju cara seperti itu, beberapa kali saya kena diare, harus istirahat seminggu.

Keadaan itu sudah lebih dari cukup buat alasan kenapa akhirnya saya terima permintaan kawan saya untuk menjualkan dagangan buku-bukunya. Kawan saya mendaftar jadi agen buku Islam. Beliau mengambil buku dalam jumlah banyak. Buku-bukunya ringkas dan sederhana tapi berbobot. Isinya tentang agama semuanya, tentang tauhid, ahklak, fikih, macam-macam lah. Dibaginya sejumlah buku kepada beberapa kawan dan juga saya untuk minta dijualkan.

Saya bawa “dagangan” saya itu kepada teman-teman kuliah, ternyata banyak yang termakan juga tawaran saya dan akhirnya turut membeli. Setelah beberapa waktu habislah dagangan itu terjual semua. Untungnya tidak banyak, satu buku cuma ambil untung seribu dua ribu rupiah. Saya kembalikan uang hasil penjualan, sang empunya dagangan tersenyum juga. Dipandangnya saya sebagai orang yang pandai menjual. Sedangkan kawan-kawan yang lain banyak yang kembali dengan buku-buku yang tidak terjual, bahkan tidak laku sama sekali. Alhamdulillah, keuntungannya cukup juga buat beli satu buku agama yang saya suka waktu itu.

Kali kedua saya berdagang buku beberapa tahun kemudian. Waktu itu diminta membantu pengembangan satu sekolah Islam yang baru berdiri. Ketiadaan biaya operasional memaksa guru-guru disitu memutar otak untuk mendapat siswa baru menjelang tahun ajaran baru. Waktu itu saya belum wisuda.

Akhirnya kami nekat mengikuti pameran pendidikan di Bandung untuk sekedar memperkenalkan nama sekolah dan menginformasikan penerimaan siswa baru. Kami dapat stand dengan harga cukup murah dari panitia acara. Kawan saya itu -namanya Sulaiman- memang seorang negosiator ulung. Darimana menutupi biaya pameran? Kami jualan buku!

“Mas, ada buku sejarah nabi ngga?”, ujar seorang wanita cantik. Sepertinya seorang karyawati muda yang sangat tertarik dengan agama.

“Ada Mbak, yang ini nih”, saya menunjukkan satu buku berjudul Sirah Nabawiyah. Si Mbak cantik ini mulai tanya-tanya isi buku dan saya jawab dengan menguraikan isinya sebatas yang saya ingat.

“Saya sering menangis kalo baca sejarah nabi, rasanya koq berat sekali ujian mereka itu”, ujar si Mbak cantik. Saya cuma manggut-manggut tersenyum. Kalo lihat lahiriyahnya mbak ini yang belum berkerudung saya salut juga dengar ucapannya barusan.

Tidak puas dengan itu, dia mulai tanya-tanya isi buku-buku lainnya yang terjejer rapi di rak. Saya jawab semuanya dengan lengkap, sekalipun sebetulnya saya belum pernah baca. Tetapi dari judul buku pun sudah tersirat isinya dan tidak sulit buat saya menjelaskannya.

“Kamu tuh pinter sekali yah, koq bisa tahu semua isi buku disini”, ujarnya heran. Saya cuma tertawa dikatakan pintar begitu.
Saya coba tawarkan buku lainnya, tentang fatwa-fatwa ulama bagi wanita muslim.

“Wah, buku itu kayaknya berat, saya masih belum siap deh kayaknya”, ujarnya tersenyum. Mungkin sadar dengan cara berpakaiannya yang belum pantas dari sisi agama.

Dia membeli beberapa buah buku sembari menawar. Saya berikan diskon khusus sehubungan dengan masa pameran. Mbak cantik ini kemudian berterima kasih sebelum akhirnya berlalu dan menghilang. Dalam hati saya cuma mendoakan semoga buku-buku yang dibelinya bermanfaat dan memberikan hidayah buatnya. Pun terhadap pembeli lainnya saya melakukan hal yang sama, doa semoga mereka mendapat manfaat dari yang mereka beli. Barangkali itu yang namanya menjual dengan hati?

* tujjar = (Ar) bentuk jamak dari tajir, artinya pedagang

Read More..

Sabtu, Mei 09, 2009

Syair Abdul Muluk - lanjutan

Syahdan, telah berlalu masa berbulan-bulan sejak terakhir tulisan “Syair Abdul Muluk”. Tetapi baru kali ini sempat melanjutkan selayang pandang saya seputar syair tersebut. Penting sekali disebutkan disini sebagai amanat ilmiah, kuatir disangka orang bahwa saya penulis syair tersebut. Syair Abdul Muluk ini saya kutip dari buku Puisi Lama karya Sutan Takdir Alisjahbana hal. 56-62.

Syair terkenal ini dinisbatkan kepada Raja Ali Haji (1808-1873), pengarang Gurindam Dua Belas yang masyhur itu. Beliau merupakan peletak dasar bahasa Melayu – Indonesia, sebagai tonggak awal kesusasteraan Melayu. Atas jasanya itulah pemerintah menggelari beliau Pahlawan Nasional Republik Indonesia.

Diakhir syair ini diberi catatan oleh St. Takdir Alisjahbana :

Dalam surat Raja Ali Haji kepada Roorda van Eijsinga tanggal 2 Juli 1846 ada tertulis: “Syahdan suatupun tiada cendera mata kepada sahabat kita, hanyalah satu surat Hikayat Sultan Abdul Muluk yang sudah kita sendiri nazamkan dengan bahasa Melayu Johor yang terpakai pada masa ini.

Jadi menurut surat ini terang Raja Ali Haji sendiri yang mengarang syair Abdul Muluk ini. Tetapi menurut keterangan H. von de Wall, bukanlah Raja Ali Haji yang mengarang syair itu, tetapi saudaranya yang perempuan, yang bernama Saleha.

Adapun Raja Ali Haji itu saudara sepupu Raja Ali yang menjadi raja muda Riau dari tahun 1844 hingga tahun 1857. Selesai.

Entah mana yang benar, tetapi Hermann Von de Wall ini tentu tidak mengada-ada. Lantaran beliau itu seorang sarjana kebudayaan Belanda yang menjadi teman dekat Raja Ali Haji.

Raja Ali Haji sendiri dilahirkan di pusat kesultanan Riau-Lingga di Pulau Penyengat. Pulau Penyengat kini memiliki museum yang menyimpan ratusan manuskrip klasik karya sejumlah tokoh asli Pulau Penyengat, jumlahnya konon mencapai 800 buah. Bisa dibayangkan betapa hebatnya kegiatan dan tradisi keilmuan di Pulau kecil tersebut hingga kurun abad 19, sehingga mampu menelurkan banyak sekali karya tulis dan tentu saja memiliki banyak penulis pula.

Jika benar bahwa syair ini aslinya dikarang oleh saudari dari Raja Ali Haji, maka terbayang oleh kita hebatnya pendidikan tertanam kepada kaum wanita disana. Betapa tidak, tentunya seorang penulis syair selain harus menguasai kemampuan bersyair itu sendiri, juga tentunya pandai menulis. Manuskrip syair ini ditulis dalam khat Arab-Jawi.

Artinya, sebagai bangsa yang memiliki sejarah intelektual tinggi seperti di pulau Penyengat ini, tidak melupakan pendidikan bagi kaum wanita. Apalagi syair ditulis dengan tulisan Arab-Jawi, jelaslah bahwa penulisnya bukan orang yang belajar di institusi yang didirikan Belanda. Melainkan menimba ilmu dari pendidik-pendidik Islam.

Konon bagi orang-orang Melayu dulu, sekolah Belanda dalam pandangan mereka merupakan sekolah kafir. Sehingga engganlah orang belajar ke sana. Maka bisa diperkirakan bahwa orang melayu pun mengembangkan institusi pendidikan sendiri untuk meningkatkan taraf pengetahuannya. Jika tidak, tentulah mereka yang produk sekolah Belanda akan menulis dengan huruf latin.

Bahkan karena umumnya orang melayu lebih menguasai abjad Arab – Jawi, maka uang gulden belanda disini pun dicetak dengan tulisan Arab Jawi.

Dengan demikian, agaknya peran Kartini tentang pendidikan perempuan itu agaknya kelewat dilebih-lebihkan. Toh di tanah Melayu semisal pulau Penyengat pun telah banyak wanita yang pandai membaca dan mengajarkannya pula jauh sebelum Kartini memulai. Perjuangan Kartini sebetulnya lebih mencerminkan pandangan tanah Jawa seputar pendidikan bagi kaum wanita yang cenderung bergaya feodal. Namun di tanah Melayu kala itu, wanita jauh lebih bebas berekspresi.

Mengenai isi syair sendiri, tergambar bagi kita tentang tingkah laku, adat istiadat, dan kehalusan budi bahasa orang-orang dahulu. Disini dikisahkan tentang pernikahan putera raja Abdul Hamid Syah, Abdul Muluk yang berusia 13 tahun dengan Sitti Rahmah, 10 tahun. Nyatalah bahwa zaman dahulu, orang-orag menikah dalam usia sangat belia menurut ukuran sekarang. Jika kejadian itu terjadi hari ini tentu gemparlah seluruh nusantara. Gadis usia 12 tahun saja dinikahi seorang pimpinan pondok pesantren bisa menyedot perhatian politikus, polisi, presiden, bahkan menjadi bensin bagi infotaintment untuk menyauk rejeki dari pemberitaan.

Barangkali juga makanya orang dahulu cepat sekali dewasa. Ada yang mampu memimpin kerajaannya di usia belum genap 20 tahun, bahkan menjadi panglima perang sekaligus. Jadi menikah membuat dewasa yah????!!!!

Disini pun digambarkan betapa agungnya acara pernikahan orang-orang dahulu. Walimah benar-benar acara suka cita, silaturahmi dengan sanak family, handai taulan, dan masyarakat seluruhnya. Tidak cukup sehari, bahkan dipersiapkan selama 40 hari!

Selebihnya, syair menggambarkan suasana resepsi yang serba indah dan membuai hati yang membacanya. Yang sudah pernah walimah jadi senyum-senyum sendiri, yang belum pun jadi ingin bersegera.

Sekarang zamannya sudah instan, tinggal hubungi gedung, minta jadwal. Trus kontak katering, cetak kartu undangan, panggil penghulu, beres! Walimah di gedung bagus, cukup selama 2 jam kurang lebih. Setelah itu, wassalam.

Read More..

Kamis, Januari 22, 2009

Syair Abdul Muluk

Berhentilah kisah raja Hindustan
Tersebutlah pula suatu perkataan
Abdul Hamid Syah paduka sultan
Duduklah baginda bersuka-sukaan

Abdul Muluk putra baginda
Besarlah sudah bangsawan muda
Cantik menjelis usulnya syahda
Tiga belas tahun umurnya ada

Parasnya elok amat sempurna
Petah menjelis bijak laksana
Memberi hati bimbang gulana
Kasih kepadanya mulia dan hina

Akan Rahmah puteri bangsawan
Parasnya elok sukar dilawan
Sedap manis barang kelakuan
Sepuluh tahun umurnya tuan

Sangatlah suka duli mahkota
Melihat puteranya besarlah nyata
Kepada isteri baginda berkata
"Adinda Nin apalah bicara kita?

Kepada fikir kakanda sendiri
Abdul Muluk kemala negeri
Baiklah kita beri beristeri
Dengan anakanda Rahmah puteri"

Permaisuri menjawab madah
"Sabda kakanda benarlah sudah
Akan anakanda Sitti Rahmah
Patutlah sudah ia berumah"

Bertitah pula baginda sultan
"Esok hari istana hiaskan
Adinda jangan berlambatan
Kerja nin hendak kakanda segerakan"

Mendengarkan titah sultan paduka
Permaisuri menjawab lakunya suka
"Alat perkakas hadirlah belaka
menantikan sampai saat ketika"

Telah sudah baginda berperi
Berangkat keluar mahkota negeri
Serta sampai ke balairung sari
Didapati hadir sekalian menteri

lalulah bertitah baginda sultan
Kepada Mansur wazir pilihan
"Berhadirlah kakanda alat pekerjaan
Abdul Muluk hendak dikawinkan

patutlah sudah ia beristeri
Dengan anakanda Rahmah puteri
Esok himpunkan hulubalang negeri
Kerja hingga empat puluh hari

Sudah bertitah raja yang gana
berangkat masuk ke dalam istana
Akan mansur yang bijaksana
Mengerjakan titah dengan sempurna

Telah datang keesokan hari
Berhimpun sekalian seisi negeri
Serta dengan anak isteri
Mansur menghiasi balairung sari

Orang mengatur sudahlah selesai
dari istana sampai ke balai
Indah rupanya tiada ternilai
Segera yang melihat heran dan lalai

Beberapa kali meriam dipasang
Bersambutlah dengan gong dan gendang
Joget dan tandak topeng
dan wayang
Tiadalah sunyi malam dan siang


Akan segala hulubalang menteri
Penuh sesak di balairung sari
Menghadap baginda sultan bestari
Setengah bermain catur baiduri



Demikianlah kerja paduka sultan
Sehari-hari minum dan makan
Dagang senteri semuanya dihimpunkan
Berbagai jenis tambul angkatan

Tiadalah hamban panjangkan peri
Sampailah kerja empat puluh hari
Sultan menghiasi putera sendiri
Diatas singgasana balairung sari

Beraturlah raja berjawab-jawaban
Penuh-sesak dibalai penghadapan
Serunai nafiri bersahut-sahutan
Nobat dipalu meriam dipasangkan

Memakailah konon muda teruna
Betapa adat raja yang gana
Dengan selengkapnya sudah terkena
Manis seperti halwa cina

Sudah memakai muda bangsawan
Wajahnya cemerlang kilau-kilauan
Cantik menjelis sebarang kelakuan
Patut putera yang dipertuan

Putera memakai selesailah sudah
Lalu dipimpin duli khalifah
Di atas perarakan dinaikkanlah
Terkembanglah payung kemuncak bertatah

Setelah mustaid sekalian rata
Lalu berarak keluar kota
Meriam dipasang bahan gempita
Laskar hulubalang bermain senjata

Ada setengah gila bersorak
Bertempik sambil mengadangkan tombak
Orang melihat tertawa gelak
Segenap lorong penuh dan sesak

Kebanyakan pula berlari-lari
Hendak melihat putera bestari
Berdahulu-dahuluan sama sendiri
Anak didukung sebelah kiri

Orang berarak terlalu bena
Tersebut perkataan di dalam istana
permaisuri yang bijaksana
Rahmah dihiasi dengan sempurna

Terlalu baik parasnya puteri
Sedap manis tidak terperi
Putih menjelis durja berseri
Tiada berbandingan di dalam negeri

Cantik manis tiada berlawan
Memberi hati pilu dan rawan
Lemah-lembut sebarang kelakuan
Segala yang memandang belas-kasihan

Sekalian alat sudah terkena
Didudukkan diatas peterana ratna
Menghadap nasi berastakona
Beraturlah siti anak perdana

Tersebutlah khabar orang berarak
Riuh dengan tempik dan sorak
Serta dengan joget dan tanda
Beberapa hamburan emas dan perak

Setelah petang sudahlah hari
Mempelai diarak orang kembali
Langsung sekali ke balairung sari
Disambut raja-raja kanan dan kiri

Sampai kembali muda teruna
Diiringkan Mansur wazir perdana
Disambut sultan dengan sempurna
Dibawanya masuk kedalam istana

Setelah datang ke dalam puri
Didudukkan baginda di kanan puteri
Keduanya sama manis berseri
Laksana bulan dengan matahari

Isteri Mansur wazir berida
Menyelampai tetampan berkida-kida
Berdatang sembah lakunyasyahda
"Santaplah tuan dengan adinda"

Mendengarkan sembah bini menteri
Tersenyum sedikit muda-bestari
Santap pun tidak berapa peri
Bersuap-suapan laki isteri

Sudahlah santap muda bangsawan
Santap sirih di dalam puan
Bertitah pula yang dipertuan
"Bawalah isterimu masuk peraduan"

Setelah didengar Abdul Muluk
Tersenyum sedikit lalulah tunduk
Dipandang baginda terlalu elok
Sedap manis tiada bertolok

Bangkit berdiri muda bangsawan
Lemah lembut malu-maluan
Dipegang tangan adinda tuan
Dibawanya masuk ke dalam peraduan

Tersenyum manis sultan mengindera
Suka melihat keduanya putera
Laki-isteri sama setara
Belumlah sampai budi-bicara

Setelah selesai muda bangsawan
Berangkat kembali yang dipertuan
Berjamu menteri hulubalang sekalian
Makan dan minum bersuka-sukaan

Tiada lagi dipanjangkan madah
Sehingga itu jadilah sudah
Tujuh hari sudah sampailah
Bersiramlah putera paras yang indah

Sudah bersiram muda teruna
Diberi memakai dengan sempurna
Didudukkan diatas peterana ratna
Santaplah nasi yang berastakona

Tiadalah hamba panjangkan peri
Duduklah baginda bersuka-sukaan
Tiga bulan sepuluh hari
Berdamailah baginda laki-isteri

Sangatlah suka paduka sultan
Melihat anakanda putera bangsawan
Dua laki-isteri berkasih-kasihan
Duduklah baginda membujuk isteri

Read More..

Minggu, Januari 11, 2009

Pantun Walimah

Hari ini kawan kuliahku dulu menikah.... tapi nikahnya jauh di Palembang. Sedih juga ga bisa hadir. Sebagai bentuk permohonan maaf karena ketidak mampuan, aku cuma bisa kasih pantun buat dia. Biar pun jelek... mudah-mudahan tetap dimaklumi......

Ramai nian kembang setaman
Patah tumbuh mengganti hilang
Jauh dicari di tanah Pasundan
Di Sriwijaya pula payung dikembang

Buat kawanku Apri Densi, kebersamaan kita dahulu dibangku kuliah benar-benar berharga dan berkesan, aku cuma bisa ucapin buatmu:
"barakallahu laka wa baraka alaika wa jamaa binakuma fil khair"
Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Amien.....

Read More..

Kamis, Januari 01, 2009

Kado Tahun Baru Muharram

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa kasihkan kado tahun baru Muharram buat temen-temen semua. Jarang-jarang kan dapet kado Muharram? Kado ultah mah dah sering.... pasti bosen. Yang spesial mungkin.... karena kadonya saya buat dan bungkus sendiri via email dengan memanfaatkan waktu senggang saya yang udah amat jarang. Bentuknya berupa tulisan sederhana, tapi jadi tidak sederhana karena menyita waktu saya yang sudah lama ngga nulis dan sudah lama ngga melakukan terjemah seperti yang saya buat ini. Ngga tahu kenapa buku kecil ini yang saya terjemahin, ngga ada alasan khusus.... mungkin karena stres. Biasanya kalo stres lagi memuncak atau kalut yang ngga hilang-hilang, saya pilih baca atau menulis.

Sembari menyusun terjemahan ini pikiran saya melayang ke hari ini, 1430 tahun yang lalu. Pada suatu kejadian pelarian paling spektakuler dalam sejarah manusia setelah pelarian Musa dan kaumnya Bani Israel melintasi Laut Merah pada 1200 SM. Hari itu suatu malam yang direncanakan penuh kengerian dari pemuka-pemuka manusia yang ketakutan pamor dan pengaruh mereka melayang. Hampir separuh penduduk Makkah bersiap mengepung dari segenap penjuru demi darah manusia yang dulu pernah mereka pilih sendiri sebagai Al-Amin, Duta Perdamaian bangsa Makkah.

Lantaran apa? Lantaran “duta perdamaian” ini sekarang telah memecah persaudaraan mereka, merendahkan kedigdayaan petinggi kaumnya, dan menyingkap aurat kebobrokan tatanan hidup mereka.

Dahulu mereka tega menyembelih anak perempuan mereka

Dahulu mereka menjual-belikan wanita dengan harga rendah

Dahulu mereka memberi pinjaman dengan riba berlipat

Dahulu dipertaruhkan harta dan keluarga di meja judi

Dahulu tertumpah darah sesamanya demi mempertaruhkan gengsi

Nyaman dengan status quo tersebut, padu dan bulatlah suara bangsa Quraisy, siap menikam anak sendiri.

Hari itu penentuan sejarah dunia selanjutnya, akankan ada hari esok untuk perubahan? Mereka berencana, Allah pun punya rencana....

Loloslah Muhammad dari rumahnya yang mulia, berangkat bersama Ash Siddiq, seorang pembenar. Pembenar perjalanan Isra’ mi’rajnya yang agung ketika manusia mendustakan.

Jangankan satu malam, walau separuh malam pun jika Muhammad yang mengatakan aku percaya ujarnya sebagai tahbis gelarnya dikemudian hari.

Berangkat dua sahabat sependeritaan ini demi menyusul kawan-kawan mereka, untuk satu harapan yang belum pasti berpihak pada mereka. Meninggalkan harta, saudara, dan segenap kerja keras yang dibangun bertahun-tahun tanpa membawa apapun kecuali harapan.

Melintasi gurun hanya beralas kaki dengan menempuh perjalanan puluhan mil memutar menuju “Tanjung Harapan”. Berpacu melawan kejaran separuh penduduk Makkah dengan kuda-kuda arabnya yang terkenal kencang dan tangguh. Apalah artinya dua manuasia memutar jalan untuk mengelabui musuh, dengan usia separuh abadnya tersusullah sampai disuatu gua sempit. Didalamnya bersembunyi Muhammad dan Ash-Shiddiq.

Sempat Sang Pembenar itu menitikkan air mata menahan perih ketika kalajengking gurun menyengatnya, tapi ditahannya suaranya demi sempurnanya tidur kawannya, Al-Amin.

Dan waktu berikutnya kembali dia menahan nafas ketika kuda-kuda arab menghampiri persembunyian mereka. Siapa sangka laba-laba, mahkluk kecil lemah dengan sarangnya yang halus yang dipilih Tuhan untuk melenyapkan alibi. Bahwa gua itu sedang didiami.

Ketika pedang tidak berdaya untuk berkata

Tuhan pun telah disangka lupa pada pejuangnya

Bersiap Ash Siddiq menyerahkan jiwa

Tetapi Laba-laba telah berkata bohong dengan sarangnya

Gurun pasir arab bersaing dengan mataharinya bersaing menciptakan nuansa kematian, kekosongan dari kehidupan, dan keheningan. Kali itu terpilih menjadi saksi –untuk kesekian kalinya- bagi nabi terakhir yang dikirim Tuhan dalam perjudiannya dengan maut.

Sementara kawan-kawannya di Madinah menanti dengan cemas, kapan kiranya hari itu berkesudahan? Apakah dengan nabi bersama mereka atau terus menanti seperti hari kemarin. Sesekali kawan mereka menaiki pohon Kurma, melempar pandangan ke arah Makkah. Apakah fatamorgana atau sosok dua manusia berjalan ke arah mereka?

Wahai manusia, itu nabi kalian telah datang”, ujar salah satu penduduk. Maka terkembanglah harapan, sirnalah kelelahan, kebatilan segera tumbang, hilang oleh kemenangan agama Tuhan atas agama kaum pagan. Nyatalah bahwa perjuangan agama Allah belum selesai, bahkan baru akan dimulai.....

Phoenix, burung api dari legenda kuno bangsa Arab, kembali mengangkasa. ...

Hari ini, 1430 tahun ba’da hijrah. Saya tulis dari jarak ribuan mil dari tempat roket-roket Bangsa Zionis yang dimurkai menyalak, haus akan darah anak-anak Palestina yang tidak berdosa. Dimalam saat separuh belahan dunia bergembira meniupkan terompet pergantian tahun masehi, ditingkahi letusan petasan dan kembang api warna-warni. ..Disaat penduduk Jakarta berbondong-bondong mengantri untuk selembar tiket Boyz 2 Men seharga lebih dari dua juta rupiah...... Disaat kesepian dan kesendirian. ... Saya berikan Kado Muharram...

3 Muharram 1430 / 31 Desember 2008


Read More..

Rabu, Desember 17, 2008

Puisi Seni Sejati

Hijau tampaknya Bukit Barisan
Berpuncak Tanggamus dengan Singgalang
Putuslah nyawa hilanglah badan
Lamun hati terkenal pulang

Gunung tinggi diliputi awan
Berteduh langit malam dan siang
Terdengar kampung memanggil taulan
Rasakan hancur tulang belulang

Habislah tahun berganti zaman
Badan merantau sakit dan senang
Membawakan diri untung dan malang

Di tengah malam terjaga badan
Terkenang bapak sudah berpulang
Diteduhi selasih, kemboja sebatang

(Kuplet Soneta M. Yamin....
Sesungguhnya ini merupakan pantun. Sutan Takdir Alisyahbana dalam "Puisi Lama" menyebut karya ini sebagai "Puisi Seni Sejati")

Read More..

Rabu, Desember 10, 2008

Potong Hewan Kurban (A.K.A Potong Bebek Angsa)

Potong hewan kurban......(potong bebek angsa)
setahun sekali.....(masak dikuali)
sebagai kurnia.....(nona minta dansa)
syukur pada Allah.....(dansa emapat kali)
AllahuAkbar....AllahuAkbar.....(sorong ke kiri.... sorong ke kanan)
Potong hewan kurban sekarang juga...... (lalalalalalalalalalala)

Bait-bait diatas jika dinyanyikan grup nasyid ato band reliji, ato si Afghan misal, tentu tidak akan selucu dengan yang didendangkan Zafira. Zafira... gadis cantik usia dua setengah tahun, buah hati dari tetanggaku yang telah bersama kami di Meruya sejak 1985.
Ayahnya yang notabene temanku sejak kecil memasukkannya ke satu Playgroup Islam khusus balita. Jadilah celoteh anak cantik ini makin jadi dan makin berbobot sebagaimana lirik yang dinyanyikannya diatas.
"Zafira, siapa yang ajarkan lagu itu?"
"Bu Guru"
, ujarnya sambil tersenyum
"Siapa Bu Gurunya Zafira?"
Lagi-lagi gadis kecil ini menjawab dengan tariannya yang lucu seraya menyebut nama 3 guru-gurunya yang katanya semuanya baik dan cantik-cantik.
Tiada hentinya dia berdendang gembira demi melihat kambing-kambing yang jumlahnya 5 ekor itu diikat di pintu pagar rumahku.
Hari itu adalah hari raya kurban. Ayahnya, aku, dan beberapa warga turut serta berkurban tahun ini dan kami jadi panitianya.
Rupanya begitu besar perhatian guru-gurunya gadis kecil ini, sampai lagu legendaris "Potong Bebek Angsa" harus diaransemen ulang menjadi "Potong Hewan Kurban". Lagu yang lirik aslinya kurang nyambung dan kurang bertanggung jawab itu pun menjadi lirik lagu pendidikan Islam yang digubah khusus anak-anak. (Potong bebek angsa???? Apa bedanya bebek sama angsa? trus knapa pula si Nona harus diajak dansa-dansi demi bebek???)
Luar biasa cara guru-guru sekarang dalam mendidik anak dan menanamkan kecintaan pada Allah. Dan bahagianya melihat anak-anak itu bernyanyi riang dan melompat-lompat gembira melihat kambing-kambing yang siap dipotong.
Apa yang ada di alam pikiran mereka? Bernyanyi dan bergembira, tertawa melihat bentuk binatang berkaki empat yang mulai jarang terlihat di kota Jakarta, senang jika daun-daun yang mereka pegang dimakan oleh si kambing.
Aku cuma bisa membayangkan adik kecilku mungkin seperti ini pula ketika seusianya. Aku tidak sempat melihatnya tumbuh hingga usianya sekarang menginjak 10 tahun. Sejak hari pertama kelahirannya ditinggal mati ibunya, harus hidup jauh dari kakaknya.
Benar-benar gadis kecil yang tegar.... diumurnya yang belia sudah mengalami dua kali ditinggal pergi ibunya, ibu kandung dan ibu tiri, kemudian ayahnya, kemudian kakeknya yang bertahun-tahun tinggal bersamanya di Padang.
Tapi apalah yang dipikirkan anak kecil seusianya?
"Yola berdo'a ngga buat kakek?"
"Iyah.... Yola berdoa buat kakek, papa, sama mama",
sahutnya via telepon.
Aku yakin dia lebih bahagia tinggal bersama kerabat kami di sana ketimbang harus hidup disini dengan kakak-kakaknya yang kebingungan mengurus dirinya sendiri. Sekalipun dia ingin supaya bisa berkumpul kembali suatu saat....
Selamat bersenang-senang disana gadis kecilku.... alam Jakarta yang keras disini belum mampu menghadirkan kebahagiaan sebagaimana yang layak bagi gadis lucu seperti dirimu....




Read More..